Hujan

Aku mengerah kan rasa yang ku punya pada ujung jemari,

membuat nya menari bersama hujan yang menyapa bumi ,

kamu membenci hujan, becek, lembab, basah , dan membuatmu merana .

Namun, kita sama-sama mencintai pelangi setelah hujan reda .

Hujan tak selalu menghantar kan rindu,

terkadang dia mengirim kan tetesan yang memukul dinding masa lalu,

Aku pernah bertanya, “bisakah hujan meluruh kan rasa gundah ?? “
sayang . . Hujan terlalu malas untuk berbalas sapa .

Aku pernah mencintai hujan yang membantuku menyamarkan air mata,

aku membenci kepalsuan, tapi harus tersenyum walau duka meraja,

Bagiku, romantis bukan ketika menatap hujan yang merintik dalam gerak lambat,

tapi merekam setiap senyum yang pernah kau buat.

Aku pernah merasakan hangat mu memeluk sela jemari, memandang keluar jendela, menghitung sisa tetes hujan tadi,

kamu jarang merangkai aksara indah, tapi kamu selalu berhasil mengusir air mata dan hadirkan tawa .

Namun, semua yang kini aku genggam hanyalah satu kata “p e r n a h”

bisakah kamu kembali menjadi kamu??

Akan kah Kamu dan Aku melebur menjadi Kita??

Karena Aku tidak pernah suka pada kata pernah .. Tak pernah . .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s