Warisan yang Aneh

Dahulu kala di negeri Arab, tinggallah seorang Abi bersama dengan tiga orang anaknya. Anak pertama bernama Abdul. Anak kedua bernama Munif dan yang bungsu bernama Farhan (Nama-namanya emang pantes neh kalo dari Arab. Kalo namanya Jeffry kan engga pantes banget, hehehe).  Merasa umurnya tidak akan lama lagi ditambah dengan kondisinya yang sakit-sakitan plus usianya yang memang sudah tua (perfect ammadh yea menuju ajal, wkwkwk), sang Abi mengumpulkan anak-anaknya.

“Wahai para Jundi, aku merasa bahwa tak akan lama lagi aku akan meninggalkan kalian semua. Aku wariskan 23 ekor sapi untuk kalian bagi bertiga (Tapi yang diwarisin ntu bukan ekornya sapi doank lho! Lengkap dengan kepala, badan, kaki, buntut, etc). Aku harap kalian tidak saling bertengkar dan membagi warisan ini dengan adil sesuai dengan yang aku wasiatkan. Abdul…” Abi menoleh kepada anaknya yang sulung.

“Ana, Abi…” jawab Abdul singkat dari sisi kanan pembaringan Abinya.

“Sebagai anak tertua, Anta mendapat bagian paling besar… yaitu SETENGAH. Dan anta Munif…” Abi berganti menoleh ke arah Munif.

“Na’am, Abi” Munif menjawab perlahan dari sisi pembaringan sebelah kiri.

“Anta mendapat jatah SEPERTIGA. Farhan… Ayna Farhan??” Abi menoleh kesana kemari mencari anaknya yang bungsu.

Farhan datang dengan nafas terengah-engah.

“Labbaik, Abi…”  Farhan langsung mencium kening Abinya.

“Min ayna Anta??” tanya sang Abi kepada Farhan yang masih berkeringat.

“Habis menyaksikan hukum pancung untuk orang Indonesia, Bi. Kasian dehh, Ruyati binti Satubi, asal Bekasi, Jawa Barat  itu kan membunuh demi membela diri, karena dia kan akan diperkosa majikannya yang juga tetangga kita.” Farhan menjelaskan alasan keterlambatannya.

“Haaah… swudah-swudah, jangan bahas itu. Itu kan cerita tahun 2011 nanti. Ingat lho, sekarang masih tahun 865. Masih 12 abad lagi. Masih tangeh… Anta sebagai Jundi Bontot mendapat bagian terkecil, yaitu SEPERDELAPAN. Fahimtum ???”

“Fahimnaa…” jawab anak-anaknya serempak.

“Eitz, satu lagi… Abi berwasiat bahwa sapi-sapi itu tidak boleh dipotong dan pembagian harus mengikuti ketentuan yang telah Abi tetapkan. Kalau kalian tidak melaksanakan wasiat ini, maka jika Abi wafat nanti, Abi akan menghantui kalian seumur hidup, ehh, seumur mati. Abi akan jadi kuntilanak…” tambah Abinya sambil memandang langit-langit kamar.

“Kuntilanak bukannya untuk hantu perempuan, Bi?!” Munif langsung menyambar petuah Abinya.

“Eh, iya ya… Aaagh, pokoknya sapinya gak boleh disembelih dan pembagian harus sesuai; setengah, sepertiga dan seperdelapan. Fahimtum??”

“Fahimnaa…” sahut anak-anaknya, lagi-lagi secara serempak.

 

Beberapa hari setelah itu, sang Abi-pun meninggal dunia. Inna lillahi wa inna ilayhi rooji’uuun (Mudah-mudahan sich anak-anaknya bisa melaksanakan wasiatnya neh. Kalo kaga — dan si Abi betulan jadi hantu —  waaah bisa-bisa jadi bahan skenario film horror neh sama sutradara-sutradara dari Indonesia. Xixixi).

Dan beberapa bulan setelahnya, Abdul dan Munif mulai meributkan masalah warisan dari Abinya itu. Cuma Farhan yang keliatannya tenang-tenang saja. “Kalo jatah gue setengah, berarti bagian buat gue adalah sebelas setengah ekor sapi (1/2 dikali 23 = 11,5). Hmmm… berarti kudu dipotong kalo ingin mengikuti wasiat Abi bahwa jatah gue adalah setengah” begitu yang ada di benak Abdul. Si Sulung itu bersikukuh bahwa jatahnya adalah SETENGAH, dan tidak boleh ditawar-tawar lagi sesuai amanat Abinya. Ia tidak ingin Abinya menjadi hantu kalo bagiannya bukan setengah. Makanya sapinya harus dipotong.

 

Sebetulnya Munif juga tidak ingin Abinya menjadi hantu. Makanya dia lebih memilih mengalah dan tidak ingin ada satu ekorpun sapi yang dipotong. Jika dihitung jatah untuk Munif adalah 7,67 ekor sapi, engga nyampe delapan ekor (1/3 dikali 23 = 7,67). “Biarlah gue dapet tujuh ekor sapi juga lumayan. Yang penting amanat Abi adalah sapinya tidak boleh ada yang dipotong biar beliau bisa istirahat dengan tenang di alam sana dan tidak jadi hantu” begitu pikir Munif.

 

Perbedaan opini antara kakak beradik itu membuat keduanya bertengkar mempertahankan argumennya masing-masing. Namun yang menarik adalah : Keduanya mengatasnamakan amanat dari Abinya, dan itulah yang sesuai. Akhirnya mereka menanyakan tentang pembagian warisan yang aneh ini kepada adik bungsunya, Farhan.

“Bro… gimana nih… Gue udah beda pendapat ama Munif. Menurut gue pembagian ini harus sesuai bilangannya, makanya sapi harus dipotong. Tapi si Munif bilang sapinya gak boleh dipotong dan dia cuma mao ambil tujuh ekor aja. Kalo menurutlo gimana, Bro?” tanya Abdul kepada Farhan.

“Astaghfirullohal adziiim…  Afwan kakak-kakakku semuanyaa. Bro-Gue-Elo… itu kan bahasa-bahasa dari barat sana yang engga pantas buat kita orang Timur.” nasihat Farhan kepada kedua kakaknya.

“Jiaaaah,, dia malah ceramah nih anak satu. Sok tua lo! Jadi gimana nih??” timpal Munif.

“Begini kakak-kakakku. Kita musyawarah yaa.  Biar Abi bisa beristirahat di alam sana, kita bisa kok melaksanakan semua yang diamanatkan Abi kepada kita. Sapinya tidak dipotong dan bilangan pembagiannya sesuai dengan yang ditetapkan…” lanjut Farhan seperti sedang memberikan kuliah kepada kakak-kakaknya.

“Hah?? Sotoy lo! Emang mungkin?” ujar Abdul pesimis.

“Ooooh, tidak bissa!” kata Munif menimpali.

“Kita pinjam saja satu ekor sapi kepunyaan paman untuk menghitung jatah pembagian buat kita. Tapi ingat lho, ini sapi boleh pinjam, jadi harus dikembalikan lagi.” lanjut Farhan berceloteh.

Berarti bagian si Abdul adalah 12 ekor sapi. Jatah untuk si Munif adalah 8 ekor sapi sedangkan milik Farhan adalah 3 ekor sapi. Jika dijumlahkan : 12+8+3=23 ekor sapi. Masih ada satu ekor sapi lagi dan itu adalah milik sang Paman yang statusnya boleh pinjam dan harus dikembalikan (dipinjam hanya untuk menghitung doank !!)

 

APA YANG SALAH DARI WASIAT SANG ABI ??

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s